Oh iya hampir lupa nih. Buat yang seneng pake operamini, opera baru aja ngeluarin operamini versi 4.2. Lumayan powerful loh, surf the web lebih lancar and kecepatan buat ngeload halaman web lebih cepet. Kalo disitus resminya bilang sih untuk pengguna di US kecepatan loadingnya meningkat sampai 30%, karena server mereka ditambah. Dan bugs yang menyangkut language udah diperbaiki, dengan penambahan beberapa bahasa. Juga ada fitur untuk mengganti skin operamini yang, kalo menurut saya, cool abis. Pokok'e just try it lah.
hehehe...
Oh iya, buat yang suka streaming lewat youtube, ni browser katanya sudah mendukung buat streaming video juga. Tapi saya belom pernah nyoba fitur yang ini. Secara streaming youtube kan muahal banget. Kalo ada yang pernah nyoba bagi-bagi pengalamannya disini yah...
Hmm, setelah saya coba download, ternyata kecepatan loading lumayan nambah koq, berapa besarnya sih gak tau. Tergantung sinyal dan traffic juga kali ye..
Buat temen-temen yang pengen download bisa langsung ngarahin browser bawaan ponselnya ke http://mini.opera.com lalu tinggal pilih bahasa dan sertifikasi dari operamini tersebut, download dan instal. Atau bisa juga download lewat komputer, langsung aja ke http://www.opera.com, ntar tinggal cari linknya, pilih jenis dan seri ponsel, lalu tinggal download jad dan jar file nya.
Instalasi operamini ngebutuhin koneksi internet, so pastiin setelan GPRSnya bener dan aktif.
Lumayan ngehemat bandwith juga sih ngenet pake operamini, cuman ya itu, tampilannya kecil banget. Kurang nyaman juga sih, tapi lumayan lah bisa jadi salah satu alternative buat terhubung ke internet secara mobile.
Cheers
Sabtu, 29 November 2008
bebas tapi tak bebas...
Kebebasan berpendapat. Topik ini emang udah agak basi sih, tapi gak pa pa. Saya lagi mood nulis tentang hal ini.
Saya termasuk orang yang mendukung kebebasan berpendapat, berbicara dan teman2nya. Karena menurut saya itu tuh hak yang paling hakiki buat kita sebagai manusia. Salah satu media untuk menyalurkan pendapat kita adalah blog.
Lalu ada pertanyaan, kalo pendapat kita itu katakanlah semacam kritikan terhadap orang atau institusi gimana? Masih kah kebebasan itu bisa dipergunakan sebebas-bebasnya? Kalo yang dikritik ga bisa nerima dengan lapang dada giman?
Buat saya hal ini masih bikin bingung. Bisa aja sih pake cara lama, blog-blog gue ini, mo nulis apa aja suka-suka gue donk, secara rumah gue sendiri. Lalu saya inget omongan pamannya peter parker si spidey : "kekuatan yang besar memiliki tanggung jawab yang besar pula". Kalo dipikir-pikir bener juga ya? Blog kan memiliki sebuah kekuatan yang besar, bisa diakses oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun. Tapi balik lagi sih kepada pribadi si pemilik blog mo dibawa kemana blognya.
Saya inget kemaren pas ngomongin hal ini dengan seorang teman, sayang dia belom tertarik buat bikin blog. Dia bilang, dan saya sangat setuju dengan apa yang dia bilang, bahwa di internet kita bisa memilih buat jadi apa aja, mo jadi orang baek, mo jadi berengsek, mo jadi apa aja bisa, terserah kitanya.
Balik ke topik...
Saya pikir, pergaulan di blogsphere juga gak jauh beda dengan dunia nyata. Ada etika-etika pergaulan yang harus kita pegang. Kalo pun mo ngritik ya harus konstruktif jangan kesannya malah menghina, karena urusannya bisa gawat.
hehehe...
Gak semua orang bisa nerima kritik kan? Apalagi institusi, bisa kena somasi.
hehehe...
Tapi saya juga kurang suka ama pembatasan2 atau segala macemnya yang nantinya malah, menurut saya, bisa mengkebiri hak kita dalam mengemukakan pendapat.
Intinya sih, pakailah kebebasan yang kita miliki dengan lebih bertanggung jawab. Kritik yang konstruktif diperlukan sebagai cambuk supaya bangsa kita lebih maju lagi di masa yang akan datang.
FYI, pemenang untuk kategori blog terbaik pada event The BOBs - Deutsche Welle International Weblog Award jatuh kepada generacion Y, sebuah blog yang ditulis oleh Yoani Sanchez. Di web resmi penyelenggara event tersebut dituliskan :
Can you imagine that? Untuk memposting tulisannya dia harus mengirimkan tulisannya melalui kepada teman-temannya yang berada diluar Kuba.
Ternyata harga dari sebuah kebebasan berpendapat itu mahal banget yak? Kita masih cukup beruntung bisa mengutarakan pendapat kita secara bebas dinegara ini. So, sekali lagi, pakailah kebebasan berpendapat yang kita miliki dengan penuh rasa tanggung jawab. In other words, 'kebebasan yang bertanggung jawab'.
Ini cuma opini saya pribadi loh, anda boleh setuju boleh tidak.
hehehe...
Cheers
Saya termasuk orang yang mendukung kebebasan berpendapat, berbicara dan teman2nya. Karena menurut saya itu tuh hak yang paling hakiki buat kita sebagai manusia. Salah satu media untuk menyalurkan pendapat kita adalah blog.
Lalu ada pertanyaan, kalo pendapat kita itu katakanlah semacam kritikan terhadap orang atau institusi gimana? Masih kah kebebasan itu bisa dipergunakan sebebas-bebasnya? Kalo yang dikritik ga bisa nerima dengan lapang dada giman?
Buat saya hal ini masih bikin bingung. Bisa aja sih pake cara lama, blog-blog gue ini, mo nulis apa aja suka-suka gue donk, secara rumah gue sendiri. Lalu saya inget omongan pamannya peter parker si spidey : "kekuatan yang besar memiliki tanggung jawab yang besar pula". Kalo dipikir-pikir bener juga ya? Blog kan memiliki sebuah kekuatan yang besar, bisa diakses oleh siapapun, dimanapun dan kapanpun. Tapi balik lagi sih kepada pribadi si pemilik blog mo dibawa kemana blognya.
Saya inget kemaren pas ngomongin hal ini dengan seorang teman, sayang dia belom tertarik buat bikin blog. Dia bilang, dan saya sangat setuju dengan apa yang dia bilang, bahwa di internet kita bisa memilih buat jadi apa aja, mo jadi orang baek, mo jadi berengsek, mo jadi apa aja bisa, terserah kitanya.
Balik ke topik...
Saya pikir, pergaulan di blogsphere juga gak jauh beda dengan dunia nyata. Ada etika-etika pergaulan yang harus kita pegang. Kalo pun mo ngritik ya harus konstruktif jangan kesannya malah menghina, karena urusannya bisa gawat.
hehehe...
Gak semua orang bisa nerima kritik kan? Apalagi institusi, bisa kena somasi.
hehehe...
Tapi saya juga kurang suka ama pembatasan2 atau segala macemnya yang nantinya malah, menurut saya, bisa mengkebiri hak kita dalam mengemukakan pendapat.
Intinya sih, pakailah kebebasan yang kita miliki dengan lebih bertanggung jawab. Kritik yang konstruktif diperlukan sebagai cambuk supaya bangsa kita lebih maju lagi di masa yang akan datang.
FYI, pemenang untuk kategori blog terbaik pada event The BOBs - Deutsche Welle International Weblog Award jatuh kepada generacion Y, sebuah blog yang ditulis oleh Yoani Sanchez. Di web resmi penyelenggara event tersebut dituliskan :
In addition to a slew of other obstacles in her way, Sanchez can't even post her own entries to the blog. Instead, she is forced to email them to friends outside of Cuba in order for her words to go on line.
Source : www.thebobs.com
Can you imagine that? Untuk memposting tulisannya dia harus mengirimkan tulisannya melalui kepada teman-temannya yang berada diluar Kuba.
Ternyata harga dari sebuah kebebasan berpendapat itu mahal banget yak? Kita masih cukup beruntung bisa mengutarakan pendapat kita secara bebas dinegara ini. So, sekali lagi, pakailah kebebasan berpendapat yang kita miliki dengan penuh rasa tanggung jawab. In other words, 'kebebasan yang bertanggung jawab'.
Ini cuma opini saya pribadi loh, anda boleh setuju boleh tidak.
hehehe...
Cheers
Senin, 17 November 2008
Yaah, tawuran lagi..
Hmm...
Perasaan baru kemaren ya ngomongin soal brantem2an dikalangan pesepakbolayang katanya nasional, eh udah adalagi brantem2an antara polisi dan mahasiswa.
ckckckck..
Bener kata Slank : Mau dibawa kemana, negara kita tercinta??
Tulis jangan ya? Kalo ditulis entar dibilang blogger negatip lagi, atau malah dibilang blognya buser lagi. Padahal kadar blogger saya kan cuma 68%
hehehehehe...
Whatever lah. Tulis aja, blog gue ini koq.
Tawuran antara polisi dengan mahasiswa. Polisi : penjaga keamanan masyarakat. Mahasiswa : alat kontrol sosial masyarakat dan bagian dari masyarakat itu sendiri. Kalau mereka cekcok??
shame...
Kenapa sih gak bisa diselesaikan dengan kepala dingin? Apapun kasusnya itu.
*disebutin atu2 modar gue, kebanyakan sih*
Saya tau, mungkin anda kecewa ama kinerja kepolisian, saya juga sih, tapikan gak mesti dengan acara ribut2 kayak preman pasar gitu, gontok2an gak karuan. Yang ada malah runyam semuanya. Pada masuk rumah sakit and masuk bui. Kenapa gak ditempuh jalur hukum aja. Toh, ada tingkatannya juga, kalo polisinya salah, lapor ke PM, kan itu gunanya mereka.
Pesimis? Saya juga! tapi daripada tawuran dan ngeganggu aktivitas masyarakat, kan lebih baik kalo kita menempuh jalur lain selain ribut. Kalaupun harus turun kejalan, lakukan dengan tertib dan tidak mengganggu kegiatan masyarakat yang laen toh.
Sok tue and tau lo pie??
Yeah, i know. Cuma ikut prihatin aja. Tanpa bermaksud menyalahkan kedua belah pihak. Soalnya, pernah ngalamin yang hal yang seperti ini juga. Meskipun waktu tu lawannya Soekarno *lho..* eh Soeharto denk
Hmm, lost focus... sampe dimana tadi? Oh.. Soeharto. Ok carry on.
Mungkin alasannya membela almamater kali ye. Come on, banyak cara yang lebih pantas dalam membela almamater anda, kalo tawuran mah malah mempermalukan almamater anda toh?
Kami juga manusia?? Iye gue tau, polisi and mahasiswa juga manusia bukan jurig! Mendingan, kalo merasa manusia pake hati nurani and pake otak aja yuk? Gak perlu lah adu otot atau gontok2an kayak gitu..
Inga'- inga' Gaudeamus Igitur :
Atau tridharma perguruan tinggi.... (gak inget gue)
hehehehe...
Kalo dipikir2, kalo sekarang aja tiap sebentar berantem, gimana mo tahan di dunia kerja. Mending kalo dapet atasan yang baek, kalo dapet yang sangar gimana? Yang tiap sebentar treak 'baka' (idiot) atau 'benkyou' (belajar [lagi gih!]), gimana? Apa mau diajak berantem juga?
hehehe..
Ga' tau lah, udah pada dewasa ini. Dah bisa milih mana yang salah dan benar. It's your choice lah..
Pesen saya cuma ini :
Buat pak pol, tolong donk jangan sampe terprovokasi gitu, kami (mahasiswa) masih muda, emosi kami masih meletup2.
Buat mahasiswa. Tolonglah jangan tawuran, yang ada nanti anda malah dikecam masyarakat, karena meresahkan mereka. Dan pamor anda semakin turun dimata massa. Sementara anda, dengan politik praktis anda, adalah ujung tombak massa dalam menyampaikan aspirasi kepada pemerintah.
Dah ah, ntar gue malah ditangkep buser lagi.
hehehe
Make love not war!!
Piss
Perasaan baru kemaren ya ngomongin soal brantem2an dikalangan pesepakbola
ckckckck..
Bener kata Slank : Mau dibawa kemana, negara kita tercinta??
Tulis jangan ya? Kalo ditulis entar dibilang blogger negatip lagi, atau malah dibilang blognya buser lagi. Padahal kadar blogger saya kan cuma 68%
hehehehehe...
Whatever lah. Tulis aja, blog gue ini koq.
Tawuran antara polisi dengan mahasiswa. Polisi : penjaga keamanan masyarakat. Mahasiswa : alat kontrol sosial masyarakat dan bagian dari masyarakat itu sendiri. Kalau mereka cekcok??
shame...
Kenapa sih gak bisa diselesaikan dengan kepala dingin? Apapun kasusnya itu.
*disebutin atu2 modar gue, kebanyakan sih*
Saya tau, mungkin anda kecewa ama kinerja kepolisian, saya juga sih, tapikan gak mesti dengan acara ribut2 kayak preman pasar gitu, gontok2an gak karuan. Yang ada malah runyam semuanya. Pada masuk rumah sakit and masuk bui. Kenapa gak ditempuh jalur hukum aja. Toh, ada tingkatannya juga, kalo polisinya salah, lapor ke PM, kan itu gunanya mereka.
Pesimis? Saya juga! tapi daripada tawuran dan ngeganggu aktivitas masyarakat, kan lebih baik kalo kita menempuh jalur lain selain ribut. Kalaupun harus turun kejalan, lakukan dengan tertib dan tidak mengganggu kegiatan masyarakat yang laen toh.
Sok tue and tau lo pie??
Yeah, i know. Cuma ikut prihatin aja. Tanpa bermaksud menyalahkan kedua belah pihak. Soalnya, pernah ngalamin yang hal yang seperti ini juga. Meskipun waktu tu lawannya Soekarno *lho..* eh Soeharto denk
Hmm, lost focus... sampe dimana tadi? Oh.. Soeharto. Ok carry on.
Mungkin alasannya membela almamater kali ye. Come on, banyak cara yang lebih pantas dalam membela almamater anda, kalo tawuran mah malah mempermalukan almamater anda toh?
Kami juga manusia?? Iye gue tau, polisi and mahasiswa juga manusia bukan jurig! Mendingan, kalo merasa manusia pake hati nurani and pake otak aja yuk? Gak perlu lah adu otot atau gontok2an kayak gitu..
Inga'- inga' Gaudeamus Igitur :
Viva academia
Viva professores
Vivat membrum quodlibet
Vivat membra quaelibet
Semper sint in flore
Atau tridharma perguruan tinggi.... (gak inget gue)
hehehehe...
Kalo dipikir2, kalo sekarang aja tiap sebentar berantem, gimana mo tahan di dunia kerja. Mending kalo dapet atasan yang baek, kalo dapet yang sangar gimana? Yang tiap sebentar treak 'baka' (idiot) atau 'benkyou' (belajar [lagi gih!]), gimana? Apa mau diajak berantem juga?
hehehe..
Ga' tau lah, udah pada dewasa ini. Dah bisa milih mana yang salah dan benar. It's your choice lah..
Pesen saya cuma ini :
Buat pak pol, tolong donk jangan sampe terprovokasi gitu, kami (mahasiswa) masih muda, emosi kami masih meletup2.
Buat mahasiswa. Tolonglah jangan tawuran, yang ada nanti anda malah dikecam masyarakat, karena meresahkan mereka. Dan pamor anda semakin turun dimata massa. Sementara anda, dengan politik praktis anda, adalah ujung tombak massa dalam menyampaikan aspirasi kepada pemerintah.
Dah ah, ntar gue malah ditangkep buser lagi.
hehehe
Make love not war!!
Piss
Minggu, 16 November 2008
Why..??
Jika korban bukan pelaku, mengapa dia disalahkan??
.....................
.....................
.....................
hmm...
topik yang terlalu berat buat saya.
Ga jadi ah...
*dipentung*
Kamis, 13 November 2008
Maen bola apa tinju??
Turut berduka cita atas kasus pemukulan wasit oleh pemain sepak bola di Sulawesi, liat beritanya kemaren di tipi.
*menarik napas panjang..*
Nonton sepak bola di Indonesia udah kaya' nonton tinju, tiap sebentar berantem, entah antar pemain, official ataupun wasit. Memalukan sekali ya??
Kayaknya mereka tuh latihannya mukulin samsak bukannya belajar nendang atau dribbling
Saya concern karena saya adalah salah satu penikmat sepak bola di negeri ini. Kalo seperti ini terus kapan majunya sepak bola di negeri ini.
Malu donk ah, dah masuk tipi, dah ditonton banyak orang, eh malah berantem!!
Kayaknya mereka emang butuh pelatihan 'anger management' atau setidaknya didampingi psikolog, supaya bisa mengontrol emosi mereka.
Saya salut melihat sikap para pemain Seri A, premiere league atau kompetisi lainnya, dimana mereka sangat menghormati keputusan wasit sekontroversial apapun itu, dan antar pemainnya respect each others. Baik dilapangan ataupun diluar lapangan. Di kita?? boro-boro, malah udah kayak preman, 'lo senggol, gue bacok'.
Saya seringbermimpi bertanya-tanya, kapan ya bisa ngeliat Indonesia versus Brazil di kancah kompetisi internasional. Kapan Indonesia raya bisa berkumandang di San Siro misalnya
, bersanding dengan lagu kebangsaan negara laen.
In your dream kali pie??
Oh, come on. Be our hero! Apa kalian -pemain bola- gak pengen pada ngerasain 'kemerindingan' (hehehe gak tau gimana ngungkapinnya, sorry), saat memasuki lapangan yang penuh dengan blitz kamera, mendengar nama anda semua diteriakkan puluhan ribu orang?? Yel-yel yang menggema diseantero stadion? Gak pengen apa bikin bangsa ini bisa nunjukin taring dihadapan bangsa laen??
Come on, jangan cuma bisa ngehajar samsak dan makan gaji buta doank. Improve your skill donk. Belum bisa bikin tehnik ya tiru tehnik orang donk, tonton tuh dvd MU, banyak skill bagus yang patut lo tiru disitu.
Work hard!! Beckham aja gak keitung berapa kali latihan freekick tiap hari, or Shearer yang latihan penguatan otot kaki dengan ngangkat beban 50kg pake kakinya. Atau liat latihan fisik para pemaen Madrid yang gila banget... ngeliatnya aja capek gue. Tiru tuh Gattuso yang biar gahar banget tapi bisa ngotrol emosinya, atau Kaka' yang bisa ngedribbling 6 pemaen Argentina yang skillnya gak jauh beda, sejauh setengah lapangan dan bikin goal!!
Oh...come on guys!!
Ah, mungkin mimpi saya emang ketinggian
*menarik napas panjang..*
Nonton sepak bola di Indonesia udah kaya' nonton tinju, tiap sebentar berantem, entah antar pemain, official ataupun wasit. Memalukan sekali ya??
Kayaknya mereka tuh latihannya mukulin samsak bukannya belajar nendang atau dribbling
Saya concern karena saya adalah salah satu penikmat sepak bola di negeri ini. Kalo seperti ini terus kapan majunya sepak bola di negeri ini.
Malu donk ah, dah masuk tipi, dah ditonton banyak orang, eh malah berantem!!
Kayaknya mereka emang butuh pelatihan 'anger management' atau setidaknya didampingi psikolog, supaya bisa mengontrol emosi mereka.
Saya salut melihat sikap para pemain Seri A, premiere league atau kompetisi lainnya, dimana mereka sangat menghormati keputusan wasit sekontroversial apapun itu, dan antar pemainnya respect each others. Baik dilapangan ataupun diluar lapangan. Di kita?? boro-boro, malah udah kayak preman, 'lo senggol, gue bacok'.
Saya sering
In your dream kali pie??
Oh, come on. Be our hero! Apa kalian -pemain bola- gak pengen pada ngerasain 'kemerindingan' (hehehe gak tau gimana ngungkapinnya, sorry), saat memasuki lapangan yang penuh dengan blitz kamera, mendengar nama anda semua diteriakkan puluhan ribu orang?? Yel-yel yang menggema diseantero stadion? Gak pengen apa bikin bangsa ini bisa nunjukin taring dihadapan bangsa laen??
Come on, jangan cuma bisa ngehajar samsak dan makan gaji buta doank. Improve your skill donk. Belum bisa bikin tehnik ya tiru tehnik orang donk, tonton tuh dvd MU, banyak skill bagus yang patut lo tiru disitu.
Work hard!! Beckham aja gak keitung berapa kali latihan freekick tiap hari, or Shearer yang latihan penguatan otot kaki dengan ngangkat beban 50kg pake kakinya. Atau liat latihan fisik para pemaen Madrid yang gila banget... ngeliatnya aja capek gue. Tiru tuh Gattuso yang biar gahar banget tapi bisa ngotrol emosinya, atau Kaka' yang bisa ngedribbling 6 pemaen Argentina yang skillnya gak jauh beda, sejauh setengah lapangan dan bikin goal!!
Oh...come on guys!!
Ah, mungkin mimpi saya emang ketinggian
Senin, 10 November 2008
Tukul, nasibmu kini...
Baru nyadar...
Ternyata acaranya si Tukul yang 4 mata tu katanya kena cekal ama KPI (komisi Penyiaran Indonesia, cmiiw). Gara2nya disalah satu episode mereka nayangin acara makan kodok dan ikan hidup2.
Kebetulan saya nonton pas tayangan ini, and my first impression was... yaiiks!! so disgusting. Untuk acara yang ditonton, katanya, ama orang seIndonesia dan malah udah tayang sampe keluar negeri sana, sungguh2 menjijikkan sekali. Gak ada pesan moralnya banget. Gak heran kalo orang2 tv dikatain punya IQ jongkok and cuma mentingin rating doank.
Terus terang, saya sebenarnya udah muak dengan tayangan2 macem sinet*** yang %&@§©]% banget dah!!
*maaf saya gak tau gimana ngungkapinnya*
Tadinya ni acara bisa sebagai alternatif tontonan, selain kick andy tentunya, tapi lama2 emang agak jayus jg sih, jadi jarang nonton gue hehehe
Nah sekarang malah tambah parah, ya masak kanibalisme kayak gt malah dijadiin tontonan? Apa udah gak ada ide laen? Gue aja yang jadi creativenya lah
hehehe
Yang jadi korban sekarang, tukul dkk lah.. Dan gue juga, jadi gak bisa liat tampang tukul yang bego lagi hehehe
Intinya, menurut saya loh, kalo bikin acara tu ya mbok dipikirin dulu efek kedepannya. Jangan asal 'yang penting rating naek'.
Yeah, i know, gue gak punya kompetensi buat ngomongin ini, tapi ya... gue kan pemirsa juga. Boleh donk ngritik. Lagian tipi juga punya tanggung jawab moral dalam mendidik dan mendeliver informasi ke pemirsanya khan?
Dah ah sebelum tambah ngaco...
hehehe
Piss all
Ternyata acaranya si Tukul yang 4 mata tu katanya kena cekal ama KPI (komisi Penyiaran Indonesia, cmiiw). Gara2nya disalah satu episode mereka nayangin acara makan kodok dan ikan hidup2.
Kebetulan saya nonton pas tayangan ini, and my first impression was... yaiiks!! so disgusting. Untuk acara yang ditonton, katanya, ama orang seIndonesia dan malah udah tayang sampe keluar negeri sana, sungguh2 menjijikkan sekali. Gak ada pesan moralnya banget. Gak heran kalo orang2 tv dikatain punya IQ jongkok and cuma mentingin rating doank.
Terus terang, saya sebenarnya udah muak dengan tayangan2 macem sinet*** yang %&@§©]% banget dah!!
*maaf saya gak tau gimana ngungkapinnya*
Tadinya ni acara bisa sebagai alternatif tontonan, selain kick andy tentunya, tapi lama2 emang agak jayus jg sih, jadi jarang nonton gue hehehe
Nah sekarang malah tambah parah, ya masak kanibalisme kayak gt malah dijadiin tontonan? Apa udah gak ada ide laen? Gue aja yang jadi creativenya lah
hehehe
Yang jadi korban sekarang, tukul dkk lah.. Dan gue juga, jadi gak bisa liat tampang tukul yang bego lagi hehehe
Intinya, menurut saya loh, kalo bikin acara tu ya mbok dipikirin dulu efek kedepannya. Jangan asal 'yang penting rating naek'.
Yeah, i know, gue gak punya kompetensi buat ngomongin ini, tapi ya... gue kan pemirsa juga. Boleh donk ngritik. Lagian tipi juga punya tanggung jawab moral dalam mendidik dan mendeliver informasi ke pemirsanya khan?
Dah ah sebelum tambah ngaco...
hehehe
Piss all
Minggu, 09 November 2008
Kedisiplinan..
Tadi malem nonton grey's anatomy. Ada adegan dimana dokter Burke (cmiiw) gagal menyelamatkan idolanya, seorang pemain biola terkenal (gak inget namanya hehe..). Mengharukan banget, asli..
Hmm, tapi bukan itu yang pengen saya tulis. Pengen nulis apa ya??
Oh iya, perkataan si burke sesudahnya, lupa gimana tepatnya, tapi kira-kira gini :
"Saya tidak punya bakat untuk menjadi dokter, tapi saya menutupinya dengan disiplin (learn a lot kali yee), dan saya menjadi yang terbaik dikelas."
Wah, simple tapi dalem banget. Bisaan tu yang bikin scriptnya.
hehehe...
Tapi serius, perkataannya itu cukup 'menampar' muka saya, karena selama ini saya sangat percaya dengan yang namanya bakat bawaan. Kayak dulu, ibu nyuruh saya buat jadi guru, karena hampir semua orang dalam keluarga berprofesi sebagai guru. Tapi dasar emang ga bakat, saya pun menolak suruhan ibu, bahkan kalo dipaksa2 sering ngamuk hehehe
Bukan... bukan saya alergi sama gaji kecil atau kerumitan birokrasinya, saya cuma takut dengan tanggung jawab seorang guru dalam mentransfer ilmu ke muridnya, tanggung jawabnya dunia-akhirat tuh, salah2 ngasih ilmu, bisa kebawa sampe mati hehehe
Beside, saya orangnya baong pisan, gak kebayang deh kalo saya jadi guru, murid bukan kencing sambil lari lagi, tapi sambil naek motor!! hahahahahaha
Hmm, sampe dimana tadi ya??
Oh iya pekataan dokter burke. Itu membuat saya berpikir, dalam menjalani suatu bidang, bakat aja tidak cukup, harus diikuti dengan keyakinan, kerja keras dan disiplin.
Ciee.. jepun banget gue ye? Hehehe, emang suka sih ma etos kerja mereka
Eh, ngomong2 tentang bakat, saya kagum sama mbak yang satu ini, tulisannya bagus banget. Kaya'nya itu yang dinamakan dengan bakat menulis ye...
Tapi ssssttt, jangan bilang2, malu gue
Cheers...
Hmm, tapi bukan itu yang pengen saya tulis. Pengen nulis apa ya??
Oh iya, perkataan si burke sesudahnya, lupa gimana tepatnya, tapi kira-kira gini :
"Saya tidak punya bakat untuk menjadi dokter, tapi saya menutupinya dengan disiplin (learn a lot kali yee), dan saya menjadi yang terbaik dikelas."
Wah, simple tapi dalem banget. Bisaan tu yang bikin scriptnya.
hehehe...
Tapi serius, perkataannya itu cukup 'menampar' muka saya, karena selama ini saya sangat percaya dengan yang namanya bakat bawaan. Kayak dulu, ibu nyuruh saya buat jadi guru, karena hampir semua orang dalam keluarga berprofesi sebagai guru. Tapi dasar emang ga bakat, saya pun menolak suruhan ibu, bahkan kalo dipaksa2 sering ngamuk hehehe
Bukan... bukan saya alergi sama gaji kecil atau kerumitan birokrasinya, saya cuma takut dengan tanggung jawab seorang guru dalam mentransfer ilmu ke muridnya, tanggung jawabnya dunia-akhirat tuh, salah2 ngasih ilmu, bisa kebawa sampe mati hehehe
Beside, saya orangnya baong pisan, gak kebayang deh kalo saya jadi guru, murid bukan kencing sambil lari lagi, tapi sambil naek motor!! hahahahahaha
Hmm, sampe dimana tadi ya??
Oh iya pekataan dokter burke. Itu membuat saya berpikir, dalam menjalani suatu bidang, bakat aja tidak cukup, harus diikuti dengan keyakinan, kerja keras dan disiplin.
Ciee.. jepun banget gue ye? Hehehe, emang suka sih ma etos kerja mereka
Eh, ngomong2 tentang bakat, saya kagum sama mbak yang satu ini, tulisannya bagus banget. Kaya'nya itu yang dinamakan dengan bakat menulis ye...
Tapi ssssttt, jangan bilang2, malu gue
Cheers...
Jumat, 07 November 2008
Barack Obama
Andai saya jadi om Barack Obama, saya akan melakukan hal-hal berikut ini :
1. Gak akan sok2an lagi jadi polisi dunia.
2. Gak akan sembarangan lagi nuduh agama tertentu sebagai teroris.
3. Gak akan mulai maen perang2an lagi, kapok!! Duit abis, untungnya gak ada.
4. Ikut nandatanganin protokol kyoto biar bumi menjadi sehat.
5. Bakalan nyuruh anak buah saya buat melucuti semua bom nuklir yang kita miliki.
6. Akan membuat diri saya berguna untuk seluruh umat manusia, tanpa membedakan warna kulit, agama, ras dan bla bla bla lainnya...
7. Akan mengupdate blog saya setiap hari...
*menarik nafas panjang*
Tapi untung sayang, saya bukan Obama...
1. Gak akan sok2an lagi jadi polisi dunia.
2. Gak akan sembarangan lagi nuduh agama tertentu sebagai teroris.
3. Gak akan mulai maen perang2an lagi, kapok!! Duit abis, untungnya gak ada.
4. Ikut nandatanganin protokol kyoto biar bumi menjadi sehat.
5. Bakalan nyuruh anak buah saya buat melucuti semua bom nuklir yang kita miliki.
6. Akan membuat diri saya berguna untuk seluruh umat manusia, tanpa membedakan warna kulit, agama, ras dan bla bla bla lainnya...
7. Akan mengupdate blog saya setiap hari...
*menarik nafas panjang*
Tapi
Rabu, 05 November 2008
Rumput tetangga lebih menarik??
Kadang rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau dari rumput yang kita punya.
hehehe...
Saya bukan ingin berbicara soal rumput, karena saya bukanpemakan rumput ahli dibidang perumputan. Saya juga tidak memelihara sapi or kambing.
Loh jadi kenapa nulis tentang rumput segala sih?
Begini, ini kejadian nyata di milist yang saya ikutin. Kebetulan anggotanya teman2 saya waktu kuliah di unand dulu.
Berawal dari Ria yang berencana membuka coffe shop ketika pulang kepadang setelah mendampingi suaminya yang ngambil S3 di Jepang. Ria pengen mempraktekkan ilmu tentang roti yang dia dapat diJepang. Lalu dia pun mengumumkannya di milist.
Sebagai seorang kawan yang baik saya dan teman2 di milist tentu memberikan dukungan penuh, masukan2 yang baik, karena mungkin hanya itu yang bisa kami berikan buat ria.
Dan bagian lucunya adalah, ketika hal ini berubah menjadi polemik. I mean, ada teman saya yang pengusaha bilang, lebih enak jadi karyawan karena akan terus mendapatkan gaji yang tetap setiap bulannya, seburuk apapun performance nya yang membedakan hanya bonus. Lalu ada lagi teman saya yang seorang karyawan bilang bahwa lebih enak jadi pengusaha, penghasilan besar, bisa beli ini-itu yang tidak mungkin bisa dibeli karyawan dengan hanya mengandalkan gaji buta dan hanya bisa dibeli kalau karyawan tersebut korupsi, dan bahwa pengusaha hanya perlu mengatur dan fokus pada sebuah sistem yang nantinya, kalau berhasil, sistem tersebut akan bekerja dengan sendirinya dan sipengusaha tinggal ongkang2 kaki, sementara uang terus mengalir ke kantongnya.
Hmm, perbincangan yang menarik bukan?
Saling 'iri' akan hal2 yang.... gimana gitu. Saya cuma tertawa aja ngeliatnya. Karena menurut saya hidup itu pilihan. Jadi tidak perlu lah terlalu 'iri' pada rumput yang dimiliki orang lain.
Kalau memang ingin menjadi pengusaha then be brave. Plan your business, then excute the plan. Mungkin di tengah jalan akan ada perbaikan/perubahan rencana, tapi itu bisa sambil berjalan.
Kalau memang yang menjadi pilihan adalah menjadi karyawan, then you should work at your best. Learn everything and reach the top.
Yang menjadi pertanyaan, berani gak mencoba hal yang baru? Karena shifting diantara dua dunia itu tidak mudah. Banyak yang berhasil tapi banyak juga yang gagal. Tergantung kesiapan mental dan keteguhan hati untuk menentukan pilihan. Beside, rezeki udah ada yang ngatur kan? Semua sudah digariskan oleh Sang Pencipta
Wise gue kan hehehe...
Moral of the story, jangan sirik ama rumput orang lain, lebih baik mengurusi rumput kita sendiri.
hehehe...
Dan jangan lupa, besyukurlah pada apa yang kita miliki sekarang, karena mungkin banyak orang yang tidak seberuntung kita. Tapi teuteup.. terus berusaha untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dari sekarang...
hehehe...
Saya bukan ingin berbicara soal rumput, karena saya bukan
Loh jadi kenapa nulis tentang rumput segala sih?
Begini, ini kejadian nyata di milist yang saya ikutin. Kebetulan anggotanya teman2 saya waktu kuliah di unand dulu.
Berawal dari Ria yang berencana membuka coffe shop ketika pulang kepadang setelah mendampingi suaminya yang ngambil S3 di Jepang. Ria pengen mempraktekkan ilmu tentang roti yang dia dapat diJepang. Lalu dia pun mengumumkannya di milist.
Sebagai seorang kawan yang baik saya dan teman2 di milist tentu memberikan dukungan penuh, masukan2 yang baik, karena mungkin hanya itu yang bisa kami berikan buat ria.
Dan bagian lucunya adalah, ketika hal ini berubah menjadi polemik. I mean, ada teman saya yang pengusaha bilang, lebih enak jadi karyawan karena akan terus mendapatkan gaji yang tetap setiap bulannya, seburuk apapun performance nya yang membedakan hanya bonus. Lalu ada lagi teman saya yang seorang karyawan bilang bahwa lebih enak jadi pengusaha, penghasilan besar, bisa beli ini-itu yang tidak mungkin bisa dibeli karyawan dengan hanya mengandalkan gaji buta dan hanya bisa dibeli kalau karyawan tersebut korupsi, dan bahwa pengusaha hanya perlu mengatur dan fokus pada sebuah sistem yang nantinya, kalau berhasil, sistem tersebut akan bekerja dengan sendirinya dan sipengusaha tinggal ongkang2 kaki, sementara uang terus mengalir ke kantongnya.
Hmm, perbincangan yang menarik bukan?
Saling 'iri' akan hal2 yang.... gimana gitu. Saya cuma tertawa aja ngeliatnya. Karena menurut saya hidup itu pilihan. Jadi tidak perlu lah terlalu 'iri' pada rumput yang dimiliki orang lain.
Kalau memang ingin menjadi pengusaha then be brave. Plan your business, then excute the plan. Mungkin di tengah jalan akan ada perbaikan/perubahan rencana, tapi itu bisa sambil berjalan.
Kalau memang yang menjadi pilihan adalah menjadi karyawan, then you should work at your best. Learn everything and reach the top.
Yang menjadi pertanyaan, berani gak mencoba hal yang baru? Karena shifting diantara dua dunia itu tidak mudah. Banyak yang berhasil tapi banyak juga yang gagal. Tergantung kesiapan mental dan keteguhan hati untuk menentukan pilihan. Beside, rezeki udah ada yang ngatur kan? Semua sudah digariskan oleh Sang Pencipta
Wise gue kan hehehe...
Moral of the story, jangan sirik ama rumput orang lain, lebih baik mengurusi rumput kita sendiri.
hehehe...
Dan jangan lupa, besyukurlah pada apa yang kita miliki sekarang, karena mungkin banyak orang yang tidak seberuntung kita. Tapi teuteup.. terus berusaha untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dari sekarang...
Langgan:
Entri (Atom)

